“Matematika bukan sekedar logika tetapi matematika
juga merupakan bahasa...”
Kutipan diatas merupakan perkataan yang dilontarkan
Sudjiwo Tedjo dalam suatu acara (dapat dilihat juga diyoutube,sudjiwo
tedjo:finding math). Agak mengelitik dan membuat kita bertanya-tanya kenapa
seorang yang kita ketahui adalah seoarang sastrawan dan budayawan berbicara dan
mengeluarkan statement seperti itu. Karena kita dalam dasawarsa ini hanya mengenal bahasa seperti
bahasa indonesia, bahasa jawa, bahasa sunda dan lain sebagainya. Kita tidak
mengetahui selain bahasa-bahasa tersebut seperti yang saya sebutkan “bahasa matematika”
Kita sudah paham bahwa, matematika tidak melulu tentang hitung menghitung atau sekedar angka. Matetematika mempunyai lebih banyak dan luas artiannya. Makanya tidak heran dalam dunia keilmuan matematika kerap disebut sebagai queen of science (ratunya ilmu). Meskipun dianggap sebagai ratunya ilmu tetapi matematika masih terdapat kerancuan dalam hal dasar logika. Namun tetap matematika dibuat acuan ataupun rujukan oleh ilmu-ilmu yang lain (The science of pattern)
Dan faktanya kita acap kali lupa bahwa matematika adalah “bahasa”, atau dengan bahasa yang lebih halus bahwa peserta didik sudah dan sering kali memposisikan matematika sebagai bahasa akan tetapi mereka tidak sadar sudah memposisikan matematika sebagai bahasa. Sebagai contoh “sama dengan” atau “memberi hasil” kita sebut dalam bahasa matematika yakni “=”, “sejajar” yang kita sebut dalam bahasa matematika yakni “//”, dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu disebut bahasa matematika atau lebih dikenal dengan simbol
Oleh karenanya kita yang menganggap matematika hanya sebagai ilmu hitung, tidak sebagai bahasa. sesuai dengan arti matematika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Adalah sesuatu yang distorsi terhadap matematika itu sendiri. Makanya tidak heran banyak yang kesulitan dalam memahami matematika karena belum memahami matematika sebagai “bahasa”. Makanya Abdul Halim Fathani memplesetkan matematika sebagai kepanjangan dari MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan.
Dari uraian diatas, pendapat Sudjiwo Tedjo beralasan. Karena tidak sedikit pakar matematika baik luar dan dalam negeri berkata senada dengan beliau, tentang arti dan hakikat matematika itu sendiri sebagai bahasa. Diantaranya, Romberg, beliau memandang matematika sebagai suatu bahasa, logika , batang tubuh dari bilangan dan ruang, rangkaian metode untuk menarik kesimpulan, esensi ilmu terhadap dunia fisik dan sebagai aktivitas intelektual. Ada juga pendapat dari ernest, beliau mengatakan “The basis of mathematical knowledge is linguistic language” .
Makanya kalau berbicara tentang masyarakat tidak terlepas dari bahasa-bahasa atau interaksi sosial yang membangunnya. Sama halnya dengan matematika tidak terlepas dengan bahasa-bahasa yang membangunnya atau simbol-simbolnya. Serupa dengan pendapat rubenstein dan thompson yakni “..... Symbolism is a from of mathematical language that is compact, abstarct, and formal. ...” yang artinya simbolisme merupakan bentuk matematika yang rapi , abstrak, khusus dan formal. Tidak heran kalau ada pendapat yang mengemukakan bahwa sejarah matematika sama dengan sejarah peradapan manusia. Hal tersebut senada dengan pendapat yang mengatakan bahwa sejarah bahasa sama dengan sejarah peradapan manusia. Dikarenakan bahasa adalah salah satu pilar yang membangun suatu peradapan manusia selain dari sosial budayanya
Selain itu bahasa terbentuk dari akulturasi budaya dan pergesekan sosial yang dipergunaikan untuk interaksi masyarakat dan memiliki arti tersirat menurut kalimatnya masing-masing, begitu juga dengan matematika. Tergantung dalam penggunaan simbol-simbol yang sesuai dengan kondisinya. Seperti “=” dapat berarti kesamaan dan dapat berari suatu persamaan. Agar kita mengerti maksud dari “=” yang digunakan dalam sesuatu, contoh dalam pernyataan.atau malah kita mengartikan “=” sebagai 2 garis dan menanggap tidak mempunyai arti ,karena kita tidak memahami bahasa atau simbol yang dipakai.
Tidak hanya didalam rumahnya sendiri (konsep atau teori dimatematika), di Al-Qur’an juga terdapat bahasa yang begitu banyak dan kalau kita tidak jeli , kita menganggap itu hanya ayat al-qur’an saja yang tidak ada bahasa matematikanya. Seperti dalam surat al fatihah, dapat dijumpai terdapat 3 golongan manusia yakni: a)yang diberi nikmat{an’amta ‘alaihim}, b)yang dimurkai{al-maghdhub}, dan c) yang sesat{al-dhallin}. Yang kesemuanya ini disebut dalam bahasa matematika sebagai himpunan atau set. Dan banyak lagi contoh bahasa matematika dalam berbagai hal, tinggal kita sadar atau tidak bahwa bahasa tersebut adalah bahasa matematika
Dan alangkah lebih baiknya biar tidak terjadi miskonsepsi terhadap matematika , perlu diberikan pemahaman bahwasanya matematika tidak melulu logika,ilmu hitung dan sebagainya, melainkan matematika adalah bahasa ,yang tidak hanya dihafal, tetapi perlu juga di fahami dan dihayati. Dan pada akhirnya kita akan berkata “matematika adalah bahasaku”
1 komentar:
Bagus mas, bagus bangeeeet. sarat makna. gagasan yang nggak semua orang bisa punya pikiran segini jeli..
saran nih, kapan-kapan nulis lagi cara memahami bahasa matematika yaa :)
Posting Komentar