Senin, 24 Maret 2014

MENGENANG PENDIDIKAN; Sebuah Refleksi

Student Is Dead..! Meski terdengar “aneh”, namun kalimat itu adalah pintu masuk untuk menggambarkan situasi dan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. “Student Is Dead” secara filosofis merupakan pengembangan nalar anologis-kritis terhadap pemikiran  dua tokoh pendidikan yang dikenal dengan teori pendidikan romantik dan humanis yaitu Everett reimer dengan simbol sakralnya “School is Dead” dan Ivan illich dengan  hentakannya “Deschoolling Society”. Mereka berusaha meyakinkan pada masyarakat bahwa sekolah bukan satu-satunya lembaga yang bisa membuat diri kita menjadi manusia, bahkan manusia sukses versi industrialisme sekalipun.
Pandangan romantik dan humanis tentang pendidikan yang lahir dari dua tokoh di atas, sebenarnya beriringan dengan besarnya harapan tentang indahnya proses pendidikan sebagai upaya menciptakan idealisme kemanusian sebagaimana dicita-citakan kaum romantik. Akan tetapi, idealisme dan harapan mereka tidak tercapai. Sebab, faktanya ternyata pendidikan mengutamakan legalitas formal dan kelembagaan sempit yang didukung dengan teknik-teknik dan menejmen yang justru menurunkan makna dan tujuan pendidikan itu sendiri
Mereka percaya pada potensi humanisasi dari pendidikan, tetapi mereka pasimis dengan praktek pendidikan konvensional seperti SEKOLAH. Pasimisme terhadap dunia sekolah yang tidak mampu mengubah keadaan hidup yang sudah lama menggaung. “Sekolah” hanya membuat kaum muda terbelenggu bahkan membodohi masyarakat.
Pernyataan di atas relevan ketika dibenturkan dengan keadaan saat ini. Sekolah telah mati. Dia dibunuh oleh “tangan dingin” kekuasaan. Tatkala sekolah mati, maka anak didik (pelajar atau siswa dalam istilah pendidikan) pun seraya mati. Mereka mati dengan tanpa meninggalkan pesan sebagai “nilai” bagi masyarakat.
Sejatinya, pendidikan merupakan suatu proses membawa manusia menjadi manusia secara utuh. Bukan sebaliknya, membunuh dengan membuat belenggu terhadap peserta didik. Itu dibuktikan dengan adanya kebijakan pemerintah, baik kurikulum maupun kehidupan yang harus dilalui oleh peserta didik di dunia sekolah (neo NKK/BKK).
Studen is  dead! “Pelajar Sudah Mati”. “Mati” dalam artian bukan mati kehilangan nyawa, tetapi mati ruh dan idealitasnya. Penyebabnya adalah sistem pendidikan yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan realita sosial yang ada. Sementara, prosesnya tidak menjadikan pelajar dapat memperoleh kebebasan dalam belajar. Sehingga, pelajar pun terpasung oleh tarian kekuasaan. Lebih dari itu, sekolah layaknya “penjara” yang sangat menakutkan untuk peserta didik. Pendidikan bukan lagi diperuntukan generasi yang belajar. Pendidikan telah menjadi alat bagi pemerintah untuk “memaksa” anak didik untuk menjalaninya. Sudah barang tentu, hal itu perlahan membunuh pelajar.
Kalian..! sebagai Mahasiswa haruslah peka melihat realita yang ada. Mahasiswa WAJIB mempunyai fungsi sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial. Mahasiswa harus mampu memerankan diri sebagai kaum intlektual yang mengatakan TIDAK terhadap bentuk penindasan dan kebobrokan sosial. Jika bukan kalian, siapa lagi yang peduli terhadap pendidikan di bumi pertiwi ini?. Mahasiswa adalah salah satu struktur sosial yang mempunyai peran strategis dalam setiap perubahan demi kemajuan bangsa. Bumi pertiwi berada di pundak kalian. Republik ini tak ubahnya negeri yang terasing dari jati dirinya. Sehingga, kemajuan menjadi jalan terjal yang harus dilalui.
Indonesia bisa gagah sebagai bangsa yang besar jika pendidikanya selaras dengan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan alat untuk “membaca” realitas, dan realitas menjadi kaca bengala untuk menatap masa yang akan datang.
Mari! Satukan keinginan untuk menuju INDONESIA BARU. Satu kata, REVOLUSI..! Demi pendidikan bangsa ini.

ORDE BARU SANG “MALAIKAT MAUT”; Rezim Pencabut Nyawa Pergerakan


Mahasiswa dan Perubahan;  Sebuah Pengantar
Seperti yang kita ketahui, mahasiswa adalah agent of change dan agent of social control. Label tersebut seakan tidak akan lepas dari mahasiswa. Pasalnya, mahasiswa memikul tanggung jawab akan eksistensinya dalam kehidupan sosial. Dalam lukisan sejarah, mahasiswa menjadi gerbong pergerakan yang tak henti-hentinya menyuarakan perubahan.
Menyoal tentang peran dan tanggung jawab sosial mahasiswa memang selalu menarik perhatian. Sejak dulu hingga kini; membicarakan mahasiswa selalu saja dikaitkan dengan peran sosial mereka dalam masyarakat atau dalam perubahan sosial. Seakan kosa kata yang selalu beriringan dengan kata mahasiswa adalah kata tanggungjawab sosial. Klasik memang. Tapi itulah realitas yang selalu mencuat ke permukaan. Selalu dapat dipastikan bahwa –diskursus- tentang peran mahasiswa dalam perubahan sosial bukanlah barang baru. Setiap tahun, bahkan setiap adanya momentum perubahan sosial di Republik ini tidak pernah luput dari peran sentral mahasiswa.
Mengapa membincangkan relasi keduanya selalu menarik?. Tidak lain karena problema tanggung jawab sosial mahasiswa dalam masyarakat tidak pernah menenukan titik akhirnya. Meski bukan merupakan hal baru, namun peran sosial mahasiswa selalu menunjukkan kebaruannya. Bukankah karena problema masyarakat juga selalu dalam situasi baru yang menuntut keterlibatan mahasiswa di dalamnya?.
Secara historis, peran mahasiswa dalam perubahan sosial memang tidak dapat diremehkan. Hampir semua perubahan sosial yang besar dan mendasar di negeri ini selalu saja melibatkan mahasiswa di dalamya. Sebut saja, sejak tahun 1908; berdirinya Boedi Oetomo sebagai awal dari munculnya sejarah nasionalisme di negeri ini secara modern; Lahirnya Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928 –yang tidak boleh kita lupakan (untuk tidak mengatakan diperingati)- yang menjadi babak baru perjuangan kebangsaan, cinta tanah air dan kebahasaan Indonesia kita, kemudian tahun 1945 melalui Proklamasi 1945 ketika sekelompok mahasiswa menekan Presiden Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI. Pada tahun 1965, ketika sejumlah mahasiswa kita melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) melakukan aksi untuk menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan yang dilakukan oleh PKI (?) hingga tahun 1997 ketika gerakan mahasiswa kita sanggup menorehkan kembali sejarah untuk mereformasi kekuasaan otoriter Orde Baru untuk menuju fajar baru kebangkitan Indonesia –yang sayangnya kok belum muncul-muncul- malahan yang terjadi adalah konsolidasi kekuatan yang anti demokrasi-.
Terlepas dari hal tersebut di atas; satu kenyataan yang tidak bisa terelakkan adalah bahwa mahasiswa selalu menjadi kekuatan utama dan pertama dalam setiap perubahan sosial di negeri ini. Pergerakan mahasiswa merupakan harga mati yang tidak bisa terbantahkan untuk mewujudkan perubahan itu. Hal ini jelas menunjukkan betapa besarnya tanggung jawab sosial mahasiswa terhadap setiap kondisi kebangsaan kita.

Lintasan Sejarah Gerakan Mahasiswa (Melawan Lupa!)
Anak-anak muda yang acap kali demonstrasi di jalan-jalan, membakar ban hingga asapnya membumbung hitam, yang selalu memacetkan jalan-jalan besar hingga pedagang sayur-mayur harus kesiangan dan hilang pembeli, serta sejumlah “embel-embel” lain, menjadi citra negatif mahasiswa saat ini. Tak dapat dipungkiri, realitas telah mengantar kita untuk memahami bahwa, telah terjadi pergeseran sosiologis dinamika kemahasiswaan saat ini dari akar sejarahnya.
Sejarah mencatat, betapa heroiknya peran-peran mahasiswa pada beberapa dekade sebelum saat ini. Berbagai rezim di berbagai belahan bumi menjadi “korban” idealisme yang digusung oleh mereka, atas nama kepentingan dan kemashlahatan rakyat banyak. 
Di Indonesia, kisah pergantian kekuasaan negara diwarnai oleh gelombang besar gerakan mahasiswa hingga pelosok-pelosok desa, membahana dan memecah keambiguan demokrasi yang sudah dikekang oleh rezim yang berkuasa selama beberapa waktu. Gerakan mahasiswa menjadi cikal gelombang gerakan sosial untuk melawan tirani yang menindas rakyat.
Dalam konteks ini, mahasiswa memegang peranan signifikan dalam rangka mengawal proses-proses demokrasi, tetapi dalam frame yang masih idealistik. Karena memang, mahasiswa masih segar dan sarat dengan idealisme. Persinggungan dengan realitaslah yang kadang mendistorsikan peran-peran strategis mahasiswa, sehingga pada beberapa kasus, kita jumpai pragmatisasi – bahkan jadi kapitalisasi — yang telah merasuk jauh ke dalam norma-norma ideal mahasiswa.

# Gerakan Mahasiswa Tahun 1966; Awal “Matinya” 
            Pergerakan
Dikenal dengan istilah angkatan 66, gerakan ini awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, dimana sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan.  Gerakan ini mengangkat isu Komunis sebagai bahaya bagi NKRI. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Eksekutif pun beralih dan berpihak kepada rakayat, yaitu dengan dikeluarkannya SUPERSEMAR (surat perintah sebelas maret) dari Presiden Soekarno kepada penerima mandat  Soeharto. Peralihan ini menandai berakhirnya rezim Soekarno dan berpindah kepada “orde baru” (sebuah istilah yang hanya rekayasa). Angkatan 66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyaknya aktivis 66 yang duduk dalam kabibet pemerintahan ORBA.

# Gerakan Mahasiswa Tahun 1972
Gerakan ini dikenal dengan terjadinya peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari). Tahun angkatan gerakan ini menolak produk Jepang dan  sinisme terhadap warga keturunan. Dan Jakarta masih menjadi barometer pergerakan mahasiswa nasional, catat saja tokoh mahasiswa yang mencuat pada gerakan mahasiswa ini seperti Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim.

# Gerakan Mahasiswa Tahun 1980-an
Gerakan pada era ini tidak popular, karena lebih terfokus pada perguruan tinggi besar saja. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri. Buntutnya Pelaku pelemparan yaitu Jumhur Hidayat terkena sanksi DO (Droup Out) oleh pihak ITB (pada pemilu 2004 beliau menjabat sebagai Sekjen Partai Serikat Indonesia / PSI).

# Gerakan Mahasiswa Tahun 1990-an; Masa Kegelapan  
Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut, yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Pemberlakuan NKK/BKK mengubah format organisasi kemahsiswaan dengan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis, yaitu dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, dimana Organisasi Kemahasiswaan pada tingkat Perguruan Tinggi bernama SMPT (senat mahasiswa perguruan tinggi).
Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis mahasiswa dalam posisi mandul. Karena pihak rektorat yang notabanenya perpanjangan tangan penguasa lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal aktivis mahasiswa yang berbuat “over”, bahkan tidak segan-segan untuk men-DO mereka (seperti yang terjadi beberapa waktu lalu).  Mahasiswa hanya dituntut “kupu kupu” yang artinya kuliah pulang kuliah pulang. Mahasiswa dikebiri kebesannya, diasingkan dan tidak diperbolehkan mengkritisi apa yang sedang terjadi di masyarakat dalam lingkup local maupun nasional
Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa dimata-matai. Maka jangan heran jika misalnya hari ini menyusun strategi demo, besoknya aparat sudah  siap siaga. Karena banyak intel berkedok mahasiswa. Salah satu adanya MENWA (Resimen Mahasiswa) yang dahulu adalah kepanjangan tangan dari pemerintahan orde baru. Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.

Menilik Orde Baru; Si Pembunuh Berdarah Dingin
Orde Baru (Orba). Sebuah era yang diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan negeri ini. Seperti istilahnya, yang memberikan embel-embel “baru”. Namun siapa sangka, label tersebut hanyalah symbol untuk meruntuhkan sejarah para pendiri bangsa ini. Sebuah distorsi sejarah sekaligus kebohongan publik. Ya, distorsi sejarah. Karena sejarah besar bangsa ini telah diubah menjadi sejarah masa lalu yang kelam. Tidaklah heran, jika rezim otoriter Orba mengubah sejarah dan memutarbalikkan fakta. Pengibar Sang Dwi Warna, Soekarno difitnah dan dilengserkan tanpa alasan pasti. Perjuangan para pahlawan revolusi dibuat mati.
Lebih dari itu, pada masa kegelapan itu, pergerakan mahasiswa seolah dicabut oleh “Mailakat Maut”. Mahasiswa dibuat “mandul”. Geraknya dirantai dengan kuasa otoriter. Masyarakat dibuat bungkam. Mereka dininabobokan dengan “bantuan” yang diberikan. Tidak ada perlawanan, karena siapa yang “melawan”, berarti “MATI”. Hampir dipastikan, Republik ini berada di bawah bayang-bayang ketakutan.
 Tirani kekeuasaan Orba sangat besar pengaruhnya, baik dalam bidang ekonomi social dan budaya. Bahkan, menurut buku panduan yang dikeluarkan PBB, dalam peluncuran prakarsa penemuan kembali kekayaan yang dicuri (Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative di Markas Besar PBB, New York, disebutkan bahwa Soeharto (1967-1998) berada dalam daftar urutan pertama pencurian asset Negara, dengan total diperkirakan 15 miliar dolar hingga 35 miliar dolar AS. Temuan PBB-Bank Dunia itu menyebutkan perkiraan total PDB Indonesia setiap tahunnya pada rezim Soeharto 1970-1998 sebesar 86,6 miliar dolar AS.
Penelitian yang dilakukan oleh sebuah badan ekonomi, Jubilee Research, menyebutkan bahwa selama 32 tahun berkuasa Soeharto telah melakukan korupsi dari pinjaman luar negeri sebesar $126 Juta. Dan tidak heran apabila para pengamat dan ahli beranggapan bahwasanya “malaikat maut” itu adalah kepanjangan dari para imperialisme yakni IMF dan World Bank
Tidak hanya itu, penyanderaan akan hak-hak manusia yang ditandai salah satunya dwifungsi ABRI. Selain sebagai pelindung keutuhan NKRI, ABRI juga sebagai wakil rakyat yang berguna sebagai pelanggeng kekuasaan orde baru saat itu. Di lain sisi, di markas besar ABRI, oerde baru mendirikan markas markas pengawas masyarakat yang  dinamakan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (KOPKAMTIB), yang kemudian seperlunya saja direkstrukturisasi dan diganti namanya menjadi Badan Koordinasi Stabilitas Nasional (BAKORSTANAS). 
Pos komando militer ada di hampir setiap tingkatan mayarakat, dengan menempatkan personil tentara di seluruh desa. Struktur tersebut bertujuan menjamin bahwa larangan aktivitas politik partai di pedesaaan dengan ketat dilaksanakan.  Itu semua guna melarang atau membatasi  gerakan-gerakan yang terjadi di dalam masyarakat, termsuk “membunuh” gerakan mahasiswa.

1998; Kebangkitan dari Kematian
1998 akan selalu dikenang dalam dunia pergerakan mahasiswa. Tahun di mana idealisme mencapai titik kulminasi. Era di mana perjuangan mencapai titik klimaks. Mahasiswa tiada henti-hentinya menyuarakan perubahan. Mereka membawa semangat yang sama, tuntutan yang sama dan cita-cita yang sama yakni menggulingkan “malaikat maut” yang telah mecabut nyawa demokrasi, kebebasan berpendapat, hak asasi manusia dan lain lain yang telah menguasai selama hampir 3 dasawarsa. Meskipun banyak korban yang berjatuhan baik dari mahasiswa, aparat keamanan (yang pada waktu itu “melindungi” penguasa), ataupun rakyat sipil yang tidak terhitung jumlahnya.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, mahasiswa dikerangkeng di kampusnya dengan pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB, ataupun cara-cara lain yang dihadapkan menurut penguasa ORBA. Namun, hal itu tidak lantas membuat mahasiswa putus asa. Karena di setiap event nasional dijadikan untuk  menyampaikan penolakan dan pencabutan SK tentang pemberlakukan NKK/BKK,
Sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah tidak berhenti pada diberlakukannya NKK/BKK. Jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung.  Ini juga dialami penulis yang menemukan titik kejenuhan  jika hanya bergulat dengan ORMAWA intra kampus, karena mahasiswa menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar, apalagi predikat mahasiswa adalah sebagai agent of intelegence, agent of change, agent of social control, yaitu mahasiswa sebagai seorang kaum terdidik, sebagai pembaharu dan sebagai kontrol sosial.
Puncaknya terjadi pada 1998, terjadi serangkaain aksi demonstrasi dalam skala nasional. Gerakan mahasiswa tidak hanya terpusat dikota kota besar seperti Jakarta, akan tetapi seluruh kota yang ada diindonesia, tebukti banyak organisasi-organisasi yang tumbuh seperti Aceh :SMUR (Solidaritas Mahasiswa untuk rakyat ), Yogyakarta:  SMKR  (Solidaritas Mahasiswa Untuk Kedaulatan Rakyat), FKMY  (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta), KeMPeD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi) Surabaya: APR  (Arek Pro Reformasi),  ASPR  (Arek Surabaya Pro Reformasi),  FORMAD (Forum Madani), FPM  (Front Perjuangan Mahasiswa), Malang: FKMM (Forum Komunikasi Mahasiswa Malang), Makassar: KONTRA (Komunitas Pelataran Kerakyatan Unhas), Dan lain lain
Tercatat dalam sejarah, nama-nama pahlawan reformasi yang gugur pada waktu tragedi 1998. Pada waktu itu, mahasiswa kembali ke kampus mereka, termasuk Universitas Trisakti yang merupakan salah satu kampus perjuangan reformasi. Aksi tersebut adalah gabungan organisasi mahasiswa dari berbagai elemen di gedung DPR dan di Istana Merdeka. Meraka diberondong tembakan yang sebagian orang beransumsi bahwa mereka ditembak oleh penenbak jitu marinir. Mereka adalah Elang Mulyana Lesmana, 19 tahun. Hery Hartanto, 21 tahun, Hendriawan, 20 tahun, Hafidhin Rayyan, 21 tahun, Sofyan Rahman, 25 tahun, Tammu Abraham Alexander Bulo, 20 tahun dan Fero Prasetya, 22 tahun. Salam hormat untuk mereka! 
Bisa kita lihat, bahwa mahasiswa mempuyai peran vital di masyarakat. Suara mahasiswa adalah suara jeritan masyarakat. Mereka adalah sosok yang mengenyam pendidikan akeademik yang di atas masyarakat, dan pastinya mempunyai kesadaran yang lebih dari pada elemen elemen masyarakat lainnya.
Namun, jika kita melihat kondisi dewasa ini, tampaknya mahasiswa mulai melupakan perannya sebagai agen perubahan, kontrol sosial dan intelektual. Mahasiswa mulai tergerus oleh hedonisme. Mereka mulai melakukan aktivitas-aktivitas (yang menurut aktivis ‘98) sebagai “lingkaran setan”, yakni “Tiga K” (kuliah, kantin, kos). Tradisi intelektual seperti membaca, diskusi dan menulis serta bergerak sudah mulai ditinggalkan.
Jadi, jangan heran apabila gerakan mahasiswa hari ini kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Hal itu disebabkan karena telah “mandeg”nya nalar kritis akibat budaya “Tiga K” tadi. Jika pergerakan mahasiswa sebelumnya mempunyai musuh (yang kita sebut “malaikat maut”) yang nyata, mulai dari penjajahan samapai zaman orde baru. Maka, hari ini musuh kita tidak dapat dilihat oleh mata, bahkan tidak dapat kita temui di khalayak umum. Musuh kita dengan tenang bersemayam di tempat yang sangat aman dan nyaman, yakni akal dan hati setiap mahasiswa. Selain itu, penguasa telah menghipnotis kita dengan lambaian “tangan”nya. Masihkah kita akan “diam”?!. Tentu pertanyaan itu harus ditanggung dan dijawab.
Lalu, bagaimana akan muncul Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib dan Munir yang "baru", jika mahasiswa semakin lemah nalar kritisnya dan semakin tumpul gerakannya?. Mahasiswa lupa akan tugas mereka yang utama yakni sebagai kaum yang selalu “Bergerak” menuju perubahan dalam setiap “Pikiran, Ucapan dan Tindakan”.
Hai mahasiswa, bangkitlah!. Bangkitlah kembali dengan jiwa pergerakan di dalam kalbu. Salam MAHASISWA..!!! Salam MAHASISWA..!!! Salam MAHASISWA..!!!

ISLAM SOSIALIS; Gerakan Membongkar Pasung Sejarah

Dewasa ini, diskursus seputar masalah Islam dan sosialisme sering mengemuka. Pembahasan berkisar pada tataran konsepsi teoritik maupun praksis. Wacana ini memang menarik, seiring dengan eskalasi politik internasional yang saat ini begitu hegemonik dan eksploitatif di bawah kendali negara-negara adi kuasa yang despotik. Tesis Francis Fukuyama-dalam The End of History and The Last Man-yang menyatakan Kapitalisme sebagai babak akhir sejarah, harus dielaborasi (kembali). Bagaimanapun, praktik kapitalisme dengan berbagai bungkusnya telah memperlihatkan wajah aslinya. Globalisasi yang selama ini begitu didewa-dewakan dan diyakini akan memberikan welfare equality bagi dunia, ternyata hanya “isapan jempol” belaka.
Sehingga wajar, praktik kapitalisme yang meniscayakan adanya imperialisme tersebut menumbuhkan kebencian kolektif serta perlawanan dari seluruh kawasan dunia. Yang menarik, perlawanan ini ternyata dapat mempersatukan golongan yang selama ini memiliki background ajaran yang berbeda, yaitu kelompok Islamis dan kelompok sosialis.

Mengulas Sejarah Sosialisme; Sedikit Menoleh ke Belakang
Dalam sejarah, perkembangan awal sosialisme yang muncul di akhir abad ke-18 berangkat melalui pemikiran radikal François Noël Babeuf selama masa revolusi Prancis. Selanjutnya doktrin pertarungan kelas tersebut, diperjuangkan dan diteruskan oleh Karl Marx yang beraliran materialisme. Namun, fase-fase perkembangan sosialisme setelah  Babeuf menjadi lebih moderat, di mana konsep pertarungan kelas dan penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan tidak lagi digunakan. Akan tetapi, lebih mengedepankan kerjasama daripada persaingan. Generasi pemikir moderat ini biasa disebut sebagai sosialisme utopis dengan tokoh-tokohnya seperti de Saint-Simon, Charles Fourier, dan Robert Owen. Setelah era kelompok pemikir sosialisme utopis, kemudian muncul tokoh-tokoh pemikir seperti Louis Blanc, Pierre Joseph Proudhon, Auhuste Blanqui yang lebih mengarah kepada ide-ide politik dan perjuangan yang lebih radikal.
Selanjutnya, perkembangan mutakhir sosialisme menjadi lebih progresif dan revolusioner di era Karl Marx dan Friedrich Engels dengan munculnya karya agung, Das Capital sebagai kitab suci dan manifesto komunisme sebagai pencetusan gerakan perlawanan terhadap tekanan sistem kapitalisme liberal. Awal perkembangan sosialisme adalah sebagai faham ekonomi yang merupakan reaksi dari revolusi industri yang telah memunculkan sebuah keadaan baru. Dengan terbentuknya kelas buruh atau dalam istilah Marx adalah sebagai kelompok proletar yang tertindas dan mengalami tindakan kesewenangan dari kaum borjuis. Namun, jauh sebelum munculnya ideologi sosialisme, bisa dipastikan di dalam kalbu kita tidaklah sepakat dengan adanya penindasan, penjajahan ataupun perampasan hak. Hal ini sejalan dengan keberadaan Islam yang dibawa oleh Sang Revolusioner Agung, Nabi Muhammad SAW.
Berawal dari sebuah keadaan masyarakat Arab yang penuh dengan kebodohan, pertikaian antar klan dan kebiadaban serta pengingkaran nilai ketauhidan, risalah Islam muncul sebagai sebuah jalan kebenaran dan keselamatan baik hidup maupun sesudah hidup itu sendiri. Meski kelahiran Islam adalah di tanah Arab, tetapi keberadaan Islam bukan bersifat ekslusif untuk bangsa Arab itu sendiri. Keberadaan Islam adalah bersifat global bagi siapa saja, kapan saja dan di mana saja (termasuk INDONESIA). Hal ini sejalan dengan konsep Islam yang bersifat Rahmatan lil Alamin.
Sejarah perkembangan umat Islam juga mengalami berbagai kemajuan dan kemunduran. Di dalam setiap fase sejarah yang dialami, tentunya sangat berbeda dari masa ke masa. Tidaklah sama baik dari segi sosiologi, politik, ekonomi yang dihadapi pada zaman Nabi Muhammad SAW dengan zaman kolonialisme atau pasca kemerdekaan. Akan tetapi, ada suatu “benang merah” bahwa keberadaan Al-qur’an dan As-sunnah sebagai pegangan hidup bagi umat Islam adalah mutlak bersifat universal. Hal ini mensyaratkan sebuah perjuangan dalam membumikan Islam baik secara fisik atau spirit. Selain itu, untuk hal tersebut diperlukan sebuah upaya yang tidak sebentar bagi para tokoh pemikir Islam untuk mengerti dan memahami ajaran Islam untuk sendiri sehingga dapat dicapai solusi-solusi cerdas bagi pemecahan di dalam setiap permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam itu sendiri.
Nabi Muhammad, sebagai pembawa risalah keislaman secara sosiologis adalah peletak pondasi dasar bagi terciptanya sebuah masyarakat yang adil dan sejahtera serta berketuhanan. Namun setelah meninggalnya Sang Nabi sebagai Pemimpin Besar Revolusi, tonggak pemerintahan diteruskan oleh para sahabat dan kemudian beralih kepada sistem kekhalifahan sesuai dengan konsep Islam bahwa manusia adalah sebagai Khalifah fil ardh. Di sinilah letak sebuah perkembangan Islam dalam berbagai bidang. Mulai penyebaran ajaran Islam, hingga kebudayaan serta ilmu pengetahuan yang dihasilkan begitu menyeluruh di setiap pelosok negeri. Bukan hanya di tanah Arab, tetapi bahkan hingga sampai ke INDONESIA.
Tak ada gading yang tak retak. Pepatah itulah yang akan menjadi hukum alam dalam kehidupan ini. Tak terkecuali di dalam sejarah Islam. Kemajuan Islam pun juga mengalami fase kemunduran. Pasca kehancuran pusat-pusat kebudayaan Islam seperti kehancuran Bagdad, keruntuhan Islam di Andalusia, Turki serta diikuti dengan perkembangan bangsa Eropa dengan renaissance-nya pelan tapi pasti. Terlebih, pasca revolusi industri yang menghasilkan berbagai perkembangan teknologi aplikasi dan perlengkapan modern, serta semakin berkembangnya ideologi kolonialisme serta kapitalisme liberal yang semakin mendorong Eropa mencari daerah-daerah pemasaran dan jajahan dengan mengusung semangat God, Glory, Gold.

Islam dan Sosialisme; Sumbu Perlawanan atas “Lingkaran Setan”
Beragam kondisi kontemporer saat ini menyiratkan sebuah kenyataan. Bahwa perang ideologi dan saling memanipulasi dan tindakan hegemoni semakin menemukan bentuknya dalam bentuk-bentuk yang paling memuakkan. Benturan-benturan kepentingan dan saling menghancurkan adalah sebuah keniscayaan dalam bingkai yang dibungkus rapi dengan berbagai propaganda. “Hantu-hantu” kekuasaan berkeliaran dengan keyakinan akan satu hal bahwa kekuatan modal menjadi penopang utama dalam mempertahankan dan kudeta kekuasaan. Warga Negara berhadapan dengan tirani kekuasaan, kaum lemah vis a vis secara tidak seimbang dengan kaum kuat.
Memasuki masyarakat Dunia Ketiga ini, Ali Syari'ati, seorang tokoh revolusioner Iran, telah mengembalikan citra Islam dari tuduhan yang statis, anti kemajuan dan anti kemapanan. Sebab, Dunia Ketiga telah sepenuhnya terkena penyakit apa yang dikenal "westruckness" (mabuk kepayang terhadap Barat dan materialism syndrom). Ya, kegilaan terhadap kemegahan materialistik. Padahal, modernisme yang dibungkus dengan paham materialisme yang berkembang saat ini tidaklah mampu mengantarkan kebahagiaan dan ketentraman hidup manusia.
Menghadapi syndrom yang serba ke barat-baratan itu, Syari'ati telah membuktikan kepada dunia, bahwa Islam tidaklah reaksioner, pasif, dan status quo. Islam pun menggerakkan manusia melawan “berhala-berhala” peradaban duniawi itu. Islam adalah revolusioner. Yaitu menata perubahan hidup dari sistem jahiliyah menuju sistem yang berkeadaban dan berkemanusiaan.
Kehadiran Islam sebagai manifestasi kebijaksanaan Tuhan mengejawantah melalui Muhammad untuk membimbing dan membebaskan manusia. Bukan hanya masyarakat Arab, tetapi untuk keseluruhan manusia yang memang terbuka mata hatinya dari krisis social dan krisis moral. Betapa tidak, berbagai penumpukan kekayaan, persaingan antar klan dan suku malah semakin mempercepat dinamika masyarakat untuk menuju kebangkrutan moral.
Sementara itu, di belantara Eropa, Sosialisme-Marxis menjadi ideologi sosialisme paling dominan dalam gerakan perlawanan menuju masyarakat egalitarianisme dan sekaligus menjadi fundamental bagi setiap gerakan perlawanan dalam memperjuangkan kaum tertindas, penghancuran terhadap segala bentuk eksploitasi. Karl Marx dengan magnum opusnya yakni Das Capital menjadikan konsep pertarungan kelas dan faham ekonomi sebagai dasar pokok bagi perkembangan sejarah di setiap periode kehidupan umat manusia.
Memang, antara Islam dan sosialisme mempunyai jurang pemisah yang rasa-rasanya sangat sulit untuk dihilangkan. Sebuah jurang pemisah yang menjadi fundamen dasar bagi gerakan yang dilakukan dalam setiap gerakan perlawanan. Islam dengan fundamen dasarnya adalah Tauhid (monotheisme). Sebuah ajaran dengan kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan sebagai pencipta dan penguasa alam semesta beserta isinya. Sedangkan Sosialisme yang nota bene dengan patronase Karl Marx memandang bahwa agama adalah candu bagi masyarakat yang hanya membuat masyarakat terlena dengan janji-janji langitnya. Namun, antara Islam dan Sosialisme terdapat persamaan. Islam dan sosialisme sama-sama berjuang dalam ranah untuk menghilangkan segala bentuk tekanan sistem kapitalisme liberal atau apapun bentuk ideologi lainnya yang membawa segala penindasan, eksploitasi atas manusia.

Gerakan Pembebasan; Membongkar Penjara Peradaban
Hal yang sering disampaikan oleh kelompok sosialis di Negara-negara dengan mayoritas Islam adalah bahwa sosialisme dan Islam memiliki kesamaan, yakni sama-sama memerangi kapitalisme. Di Indonesia misalnya, perjalanan sosialisme berawal dari Serikat Islam (SI) Semarang, dengan tokoh-tokohnya seperti Semaoen, Darsono, Mas Marco. Sosialisme di Indonesia dibawa oleh orang Belanda yang bernama Sneevliet.
Dalam beberapa hal, tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan perlawanan terhadap tirani penguasa, sosialisme selalu menjadi pilihan platform gerakan perlawanan. Hal ini bisa kita fahami bahwa dengan sosialisme sebagai pisau analisis dalam membaca perubahan. Sebab, sosialisme mengusung semangat egalitarianisme masyarakat dan keadilan sosial. Namun, dalam bidang tertentu seperti konsep “ sama rata-sama rasa “ adalah hal yang tidak bisa diterima. Karena bagaimanapun juga dalam konsep Islam hak akan setiap individu tetap memiliki tempatnya. Apalagi tentang atheisme di dalam sosialisme-komunisme, tentu saja Islam menolak mentah-mentah akan hal ini. Bahkan faham atheisme perlu dihilangkan. Tentu saja karena bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, yang senantiasa menyandarkan setiap perbuatan bahkan tarikan nafas kepada Sang Maha Agung. Menjadi fitrah manusia untuk mempunyai Tuhan, atau setidaknya mengakui hal-hal yang superioritas di luar dirinya untuk menjadi sandaran manusia itu sendiri. Sehingga faham atheisme adalah faham yang pantas “mati” karena bagaimanapun juga tidak berkesesuaian dengan fitrah manusia itu sendiri.
Tentang dilema sosialisme dan Islam ini, Mohammad Hatta pernah mengatakan:
Sekarang, bagaimana duduknya sosialisme Indonesia? Cita-cita sosialisme lahir dalam pangkuan pergerakan kebangsaan Indonesia. Dalam pergerakan yang menuju kebebasan dari penghinaan diri dan penjajahan, dengan sendirinya orang terpikat oleh tuntutan sosial dan humanisme perikemanusiaan yang disebarkan oleh pergerakan sosialisme di benua Barat. Tuntutan sosial dan humanisme itu tertangkap pula oleh jiwa Islam, yang memang menghendaki pelaksanaan perintah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Adil, supaya manusia hidup dalam sayang menyayangi dan dalam suasana persaudaraan dengan tolong-menolong

Islam sangat menghargai baik peranan individu maupun peranan Negara. Islam dapat mengharmonikan keduanya. Sehingga seorang individu mempunyai kebebasan yang sangat diperlukannya untuk mengembangkan potensinya. Selain itu, memberikan kekuasaan kepada masyarakat dan negara untuk mengatur dan melakukan kontrol hubungan sosio-ekonomi untuk menjaga dan memelihara keharmonisan kehidupan manusia.
HOS Cokroaminoto juga pernah mengatakan bahwa, menghisap keringat orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan orang lain, tidak memberikan keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) menjadi bagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu. Semua perbuatan yang serupa ini (oleh Marx) disebut memakan “keuntungan nilai lebih”. Hal ini jelas dilarang sekeras-kerasnya oleh Islam. Maka nyatalah, agama Islam memerangi kapitalisme sampai pada “akarnya”, dan “membunuh” kapitalisme mulai dari “benihnya”. Oleh karena pertama-tama sekali yang menjadi dasarnya kapitalisme, yaitu memakan keuntungan “meerwaarde” menurut kaca mata Marx, dan memakan “riba” dalam pandangan Islam.
Lebih lanjut, H. Agus Salim, mengemukakan bahwa, Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan sosialisme, sejak 1200 tahun sebelum Karl Marx.  Hal ini menyiratkan sebuah hubungan khusus antara Islam dan sosialisme. Meski tetap dengan memperhatikan dan menghilangkan beberapa konsep dalam sosialisme yang tidak sejalan dengan Islam. Ini adalah sebuah jalan tengah. Sebuah langkah untuk menciptakan “Gelombang Pergerakan Baru” untuk melawan setiap bentuk penindasan dengan baju kolonialisme dan kapitalisme liberal yang kini semakin memasung sejarah.
Islam Sosialis memiliki visi yang cemerlang bagi peningkatan kesadaran masyarakatnya. Islam sebagai agama tidak hanya dipahami sekadar aktivitas ritual dan fiqh yang tidak menjangkau wilayah politik, apalagi masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Islam harus dikonstruk sebagai sumber inspirasi emansipasi dan pembebasan. Yaitu nilai-nilai yang menjungjung tinggi keadilan dan kesamaan derajat. Islam tidak mengenal kelas/kasta yang membelenggu tatanan sosial, yang sebagaimana itu diciptakan dalam paham Marxisme.