Senin, 24 Maret 2014

MENGENANG PENDIDIKAN; Sebuah Refleksi

Student Is Dead..! Meski terdengar “aneh”, namun kalimat itu adalah pintu masuk untuk menggambarkan situasi dan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. “Student Is Dead” secara filosofis merupakan pengembangan nalar anologis-kritis terhadap pemikiran  dua tokoh pendidikan yang dikenal dengan teori pendidikan romantik dan humanis yaitu Everett reimer dengan simbol sakralnya “School is Dead” dan Ivan illich dengan  hentakannya “Deschoolling Society”. Mereka berusaha meyakinkan pada masyarakat bahwa sekolah bukan satu-satunya lembaga yang bisa membuat diri kita menjadi manusia, bahkan manusia sukses versi industrialisme sekalipun.
Pandangan romantik dan humanis tentang pendidikan yang lahir dari dua tokoh di atas, sebenarnya beriringan dengan besarnya harapan tentang indahnya proses pendidikan sebagai upaya menciptakan idealisme kemanusian sebagaimana dicita-citakan kaum romantik. Akan tetapi, idealisme dan harapan mereka tidak tercapai. Sebab, faktanya ternyata pendidikan mengutamakan legalitas formal dan kelembagaan sempit yang didukung dengan teknik-teknik dan menejmen yang justru menurunkan makna dan tujuan pendidikan itu sendiri
Mereka percaya pada potensi humanisasi dari pendidikan, tetapi mereka pasimis dengan praktek pendidikan konvensional seperti SEKOLAH. Pasimisme terhadap dunia sekolah yang tidak mampu mengubah keadaan hidup yang sudah lama menggaung. “Sekolah” hanya membuat kaum muda terbelenggu bahkan membodohi masyarakat.
Pernyataan di atas relevan ketika dibenturkan dengan keadaan saat ini. Sekolah telah mati. Dia dibunuh oleh “tangan dingin” kekuasaan. Tatkala sekolah mati, maka anak didik (pelajar atau siswa dalam istilah pendidikan) pun seraya mati. Mereka mati dengan tanpa meninggalkan pesan sebagai “nilai” bagi masyarakat.
Sejatinya, pendidikan merupakan suatu proses membawa manusia menjadi manusia secara utuh. Bukan sebaliknya, membunuh dengan membuat belenggu terhadap peserta didik. Itu dibuktikan dengan adanya kebijakan pemerintah, baik kurikulum maupun kehidupan yang harus dilalui oleh peserta didik di dunia sekolah (neo NKK/BKK).
Studen is  dead! “Pelajar Sudah Mati”. “Mati” dalam artian bukan mati kehilangan nyawa, tetapi mati ruh dan idealitasnya. Penyebabnya adalah sistem pendidikan yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan realita sosial yang ada. Sementara, prosesnya tidak menjadikan pelajar dapat memperoleh kebebasan dalam belajar. Sehingga, pelajar pun terpasung oleh tarian kekuasaan. Lebih dari itu, sekolah layaknya “penjara” yang sangat menakutkan untuk peserta didik. Pendidikan bukan lagi diperuntukan generasi yang belajar. Pendidikan telah menjadi alat bagi pemerintah untuk “memaksa” anak didik untuk menjalaninya. Sudah barang tentu, hal itu perlahan membunuh pelajar.
Kalian..! sebagai Mahasiswa haruslah peka melihat realita yang ada. Mahasiswa WAJIB mempunyai fungsi sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial. Mahasiswa harus mampu memerankan diri sebagai kaum intlektual yang mengatakan TIDAK terhadap bentuk penindasan dan kebobrokan sosial. Jika bukan kalian, siapa lagi yang peduli terhadap pendidikan di bumi pertiwi ini?. Mahasiswa adalah salah satu struktur sosial yang mempunyai peran strategis dalam setiap perubahan demi kemajuan bangsa. Bumi pertiwi berada di pundak kalian. Republik ini tak ubahnya negeri yang terasing dari jati dirinya. Sehingga, kemajuan menjadi jalan terjal yang harus dilalui.
Indonesia bisa gagah sebagai bangsa yang besar jika pendidikanya selaras dengan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan alat untuk “membaca” realitas, dan realitas menjadi kaca bengala untuk menatap masa yang akan datang.
Mari! Satukan keinginan untuk menuju INDONESIA BARU. Satu kata, REVOLUSI..! Demi pendidikan bangsa ini.

Tidak ada komentar: