Student Is Dead..! Meski terdengar
“aneh”, namun kalimat itu adalah pintu masuk untuk menggambarkan situasi dan
kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. “Student Is Dead” secara filosofis
merupakan pengembangan nalar anologis-kritis terhadap pemikiran dua tokoh pendidikan yang dikenal dengan
teori pendidikan romantik dan humanis yaitu Everett reimer dengan simbol
sakralnya “School is Dead” dan Ivan illich dengan hentakannya “Deschoolling Society”.
Mereka berusaha meyakinkan pada masyarakat bahwa sekolah bukan satu-satunya
lembaga yang bisa membuat diri kita menjadi manusia, bahkan manusia sukses versi
industrialisme sekalipun.
Pandangan romantik dan humanis tentang
pendidikan yang lahir dari dua tokoh di atas, sebenarnya beriringan dengan besarnya
harapan tentang indahnya proses pendidikan sebagai upaya menciptakan idealisme
kemanusian sebagaimana dicita-citakan kaum romantik.
Akan tetapi, idealisme dan harapan mereka tidak tercapai. Sebab, faktanya
ternyata pendidikan mengutamakan legalitas formal dan kelembagaan sempit yang
didukung dengan teknik-teknik dan menejmen yang justru menurunkan makna dan
tujuan pendidikan itu sendiri
Mereka percaya pada potensi humanisasi dari pendidikan,
tetapi mereka pasimis dengan praktek pendidikan konvensional seperti “SEKOLAH”.
Pasimisme terhadap dunia sekolah yang tidak mampu mengubah keadaan hidup yang
sudah lama menggaung. “Sekolah” hanya membuat kaum muda terbelenggu bahkan
membodohi masyarakat.
Pernyataan di atas relevan ketika
dibenturkan dengan keadaan saat ini. Sekolah telah mati. Dia dibunuh oleh
“tangan dingin” kekuasaan. Tatkala sekolah mati, maka anak didik (pelajar atau siswa dalam istilah pendidikan) pun seraya
mati. Mereka mati dengan tanpa meninggalkan pesan sebagai “nilai” bagi
masyarakat.
Sejatinya, pendidikan merupakan suatu proses membawa
manusia menjadi manusia secara utuh. Bukan sebaliknya, membunuh dengan membuat
belenggu terhadap peserta didik. Itu dibuktikan dengan adanya kebijakan pemerintah,
baik kurikulum maupun kehidupan yang harus dilalui oleh peserta didik di dunia
sekolah (neo NKK/BKK).
Studen is dead! “Pelajar Sudah Mati”. “Mati”
dalam artian bukan mati kehilangan nyawa, tetapi mati ruh dan idealitasnya. Penyebabnya
adalah sistem pendidikan yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan
kebutuhan realita sosial yang ada. Sementara, prosesnya
tidak menjadikan pelajar dapat memperoleh kebebasan dalam
belajar. Sehingga, pelajar pun terpasung oleh tarian kekuasaan. Lebih
dari itu, sekolah layaknya “penjara” yang sangat menakutkan untuk peserta
didik. Pendidikan bukan lagi diperuntukan generasi yang belajar. Pendidikan
telah menjadi alat bagi pemerintah untuk “memaksa” anak didik untuk menjalaninya.
Sudah barang tentu, hal itu perlahan membunuh pelajar.
Kalian..! sebagai Mahasiswa haruslah peka
melihat realita yang ada. Mahasiswa WAJIB
mempunyai fungsi sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial.
Mahasiswa harus mampu memerankan diri sebagai kaum
intlektual yang mengatakan TIDAK terhadap bentuk penindasan dan kebobrokan
sosial. Jika bukan kalian, siapa lagi yang peduli terhadap pendidikan di bumi
pertiwi ini?. Mahasiswa adalah salah satu struktur sosial yang mempunyai peran
strategis dalam setiap perubahan demi kemajuan bangsa. Bumi pertiwi berada di pundak
kalian. Republik ini tak ubahnya negeri yang terasing dari jati dirinya. Sehingga,
kemajuan menjadi jalan terjal yang harus dilalui.
Indonesia bisa gagah sebagai bangsa
yang besar jika pendidikanya selaras dengan realitas sosialnya. Pendidikan
merupakan alat untuk “membaca” realitas, dan realitas menjadi kaca bengala
untuk menatap masa yang akan datang.
Mari! Satukan keinginan untuk menuju INDONESIA BARU. Satu
kata, REVOLUSI..! Demi pendidikan bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar