Suhu
politik indonesia kian hari kian memanas, semenjak ditetapkannya pasangan calon
presiden dan wakil presiden2014-2019 Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta oleh komisi
pemilihan umum (Komisi Pemilihan Umum). Genderang perang udah mulai ditabuh
oleh masing masing tim sukses, meski pun belum ditetapkan kapan berlangsungnya
kampanye terbuka.
Semua
orang bisa dikatakan sudah mulai menerka dan membayangkan siapa presiden
indonesia 5tahun kede pan serta bagaimana nasib indonesia a pabila indonesia
kelak dipimpim oleh salah satu dari 2 pasangan calon tersebut yang memenangkan
kontestasi ini. Terlepas dari itu semua, banyak juga yang sudah menerka-nerka
siapa bakal calon menteri yang akan menjadi tangan panjang presiden ditiap-tiap
kementrian yang ada, yang patut saya bicarakan kali ini yakni dua kementrian
besar yakni KEMENDIKBUB (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) dan KEMENAG (Kementrian
Agama).
Dua
institusi ini sudah menjadi lahan basah bagi perebutan kekuasaan ormas islam
yakni NU dan Muhammadiyah . jika ditelisik selama sudah hampir 70 tahun
pemerintahan indonesia berdiri, mulai dari orde baru sampai pasca reformasi ini.
Keduanya saling ingin menduduki kedua kementrian tersebut.
Kita
pasti berfikiran kenapa kok kementrian itu saja? Tidak yang lain. Karena
memimpin kedua kementrian tersebut bisa dikatakan tidak perlu membutuhkan
keahlian khusus tidak seperti KEMENKEU (kementrian keuangan). Dengan hanya
bermodal status jabatan atau gelar yang hari ini bisa di”BELI” atau dengan alih
alih gelar “Honorius Clausa” yang juga gak jelas peniliaanya , mereka bisa
menduduki jabatan MENDIKBUD atau dengan memiliki institusi pendidikan Agama
atau pondok pesantren mereka dapat dengan pedenya memimpin KEMENAG 5 tahun
kedepan.
Jika dilihat lihat seperti itu,
sudah sangat gamblang bahwasanya politik hari ini masih butuh suatu penyegaran.
meski pun salah satu pihak berpendapat bahwa pasangan yang diusungnya tidak ada
istilah bagi bagi jabatan atau yang mereka sebut kerjasama tanpa syarat. Kita
menelisik ke kedua tim sukses (yang kelak ada yang gak sukses karena pasangan
yang diusungnya kalah). Kita sudah pasti menebak bahwasanya MENAG selanjutnya
sudah dapat di pastikan dari kalangan Nahdliyin. Yang dalam dalam komposisi tim
sukses masing-masing pasangan kekuatan Nahdliyin merata.
Tetapi yang perlu dicermati yakni
jabatan MENDIKBUD 5 tahun mendatang. yang sekarang dalam pemerintahan SBY jilid
dua dimiliki dari kalangan akademisi Nahdliyin. M Nuh (mantan rektor ITS). Dengan
semangat memperjuangkan Kurikulum 2013 serta cita-cita mendirikan kurang lebih
20 kampus NU diindonesia salah satunya di Surabaya (UNUSA). tetapi dari Kesemuanya
itu tidak lepas kritikan dan tentangan, tidak lain datangnya dari kalangan
akademisi yang ber’BAJU’ Muhammadiyah.
Jika dilihat dari komposisi tim
sukses,masih sangat sulit melihat siapa MENDIKBUD dari pasangan prabowo-hatta.
tetapi sinyal kuat akan berasal dari unsur Muhammadiyah, jika dilihat dari
gelagat semakin getolnya ORMAS ini mendukung pasangan tersebut. aspek lainya
yang tidak kalah kuat yakni semangat ingin balas ”Demdam” kekecewaan akibat M.
Nuh (Nahdliyin) yang telah menguasai 5 tahun terakhir dengan tindakan-tindakan
yang terkesan menganak tirikan kalangan lainnya (Muhammadiyah). Hemat saya
akan, 5 tahun mendatang akan ada kurikulum baru yang menghiasi “etalase” sejarah
pendidikan Indonesia sebagai ajang gengsi dan ajang pamer kepintaran.
Lain
halnya dari pasangan Jokowi-JK sudah sangat jelas untuk MENDIKBUD yakni Anies
Baswedan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan prestasi segunung beliau,
memang sangat pantas beliau menduduki jabatan tersebut. tetapi jika dirunut
kebelakang , dengan semangat kerjasama tanpa syarat yang ditawarkan PDI-P
(partai pengusung Jokowi-JK) maka bisa dikatakn mereka seperti menelan ludah
mereka sendiri. Tidak bisa seorang anies yang hanya manusia belaka dengan semangat
”turun tangan” tidak memikirkan itu. Beliau
mau masuk ke konvensi partai demokrat bukan karena tidak ingin imbalan tetapi
karena “iming-iming” jabatan presiden jika memenangkan acara tersebut. Mungkin juga beliau masuk tim sukses ini juga
karena ada “iming-iming” yang diberikan.
Jika
kita mengambil intisari dari tarian topeng malangan ataupun pewayangan, pemain
ataupun dalangnya hanya satu tetapi dapat berubah menjadi tokoh lain. Sama
halnya dengan politik Indonesia hari ini, akan ada yang namaya transaksi dan
jual beli kekuasaan, meskipun sudah berganti nama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar