Jumat, 13 Juni 2014

MELIHAT DIBALIK CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN : SIAPA MENTERI AGAMA DAN PENDIDIKAN 2014-2019



Suhu politik indonesia kian hari kian memanas, semenjak ditetapkannya pasangan calon presiden dan wakil presiden2014-2019 Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta oleh komisi pemilihan umum (Komisi Pemilihan Umum). Genderang perang udah mulai ditabuh oleh masing masing tim sukses, meski pun belum ditetapkan kapan berlangsungnya kampanye terbuka.
Semua orang bisa dikatakan sudah mulai menerka dan membayangkan siapa presiden indonesia 5tahun kede pan serta bagaimana nasib indonesia a pabila indonesia kelak dipimpim oleh salah satu dari 2 pasangan calon tersebut yang memenangkan kontestasi ini. Terlepas dari itu semua, banyak juga yang sudah menerka-nerka siapa bakal calon menteri yang akan menjadi tangan panjang presiden ditiap-tiap kementrian yang ada, yang patut saya bicarakan kali ini yakni dua kementrian besar yakni KEMENDIKBUB (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) dan KEMENAG (Kementrian Agama).
Dua institusi ini sudah menjadi lahan basah bagi perebutan kekuasaan ormas islam yakni NU dan Muhammadiyah . jika ditelisik selama sudah hampir 70 tahun pemerintahan indonesia berdiri, mulai dari orde baru sampai pasca reformasi ini. Keduanya saling ingin menduduki kedua kementrian tersebut.
Kita pasti berfikiran kenapa kok kementrian itu saja? Tidak yang lain. Karena memimpin kedua kementrian tersebut bisa dikatakan tidak perlu membutuhkan keahlian khusus tidak seperti KEMENKEU (kementrian keuangan). Dengan hanya bermodal status jabatan atau gelar yang hari ini bisa di”BELI” atau dengan alih alih gelar “Honorius Clausa” yang juga gak jelas peniliaanya , mereka bisa menduduki jabatan MENDIKBUD atau dengan memiliki institusi pendidikan Agama atau pondok pesantren mereka dapat dengan pedenya memimpin KEMENAG 5 tahun kedepan.
            Jika dilihat lihat seperti itu, sudah sangat gamblang bahwasanya politik hari ini masih butuh suatu penyegaran. meski pun salah satu pihak berpendapat bahwa pasangan yang diusungnya tidak ada istilah bagi bagi jabatan atau yang mereka sebut kerjasama tanpa syarat. Kita menelisik ke kedua tim sukses (yang kelak ada yang gak sukses karena pasangan yang diusungnya kalah). Kita sudah pasti menebak bahwasanya MENAG selanjutnya sudah dapat di pastikan dari kalangan Nahdliyin. Yang dalam dalam komposisi tim sukses masing-masing pasangan kekuatan Nahdliyin merata. 
            Tetapi yang perlu dicermati yakni jabatan MENDIKBUD 5 tahun mendatang. yang sekarang dalam pemerintahan SBY jilid dua dimiliki dari kalangan akademisi Nahdliyin. M Nuh (mantan rektor ITS). Dengan semangat memperjuangkan Kurikulum 2013 serta cita-cita mendirikan kurang lebih 20 kampus NU diindonesia salah satunya di Surabaya (UNUSA). tetapi dari Kesemuanya itu tidak lepas kritikan dan tentangan, tidak lain datangnya dari kalangan akademisi yang ber’BAJU’ Muhammadiyah.
            Jika dilihat dari komposisi tim sukses,masih sangat sulit melihat siapa MENDIKBUD dari pasangan prabowo-hatta. tetapi sinyal kuat akan berasal dari unsur Muhammadiyah, jika dilihat dari gelagat semakin getolnya ORMAS ini mendukung pasangan tersebut. aspek lainya yang tidak kalah kuat yakni semangat ingin balas ”Demdam” kekecewaan akibat M. Nuh (Nahdliyin) yang telah menguasai 5 tahun terakhir dengan tindakan-tindakan yang terkesan menganak tirikan kalangan lainnya (Muhammadiyah). Hemat saya akan, 5 tahun mendatang akan ada kurikulum baru yang menghiasi “etalase” sejarah pendidikan Indonesia sebagai ajang gengsi dan ajang pamer kepintaran.
Lain halnya dari pasangan Jokowi-JK sudah sangat jelas untuk MENDIKBUD yakni Anies Baswedan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan prestasi segunung beliau, memang sangat pantas beliau menduduki jabatan tersebut. tetapi jika dirunut kebelakang , dengan semangat kerjasama tanpa syarat yang ditawarkan PDI-P (partai pengusung Jokowi-JK) maka bisa dikatakn mereka seperti menelan ludah mereka sendiri. Tidak bisa seorang anies yang hanya manusia belaka dengan semangat ”turun tangan”  tidak memikirkan itu. Beliau mau masuk ke konvensi partai demokrat bukan karena tidak ingin imbalan tetapi karena “iming-iming” jabatan presiden jika memenangkan acara tersebut.  Mungkin juga beliau masuk tim sukses ini juga karena ada “iming-iming” yang diberikan.
Jika kita mengambil intisari dari tarian topeng malangan ataupun pewayangan, pemain ataupun dalangnya hanya satu tetapi dapat berubah menjadi tokoh lain. Sama halnya dengan politik Indonesia hari ini, akan ada yang namaya transaksi dan jual beli kekuasaan, meskipun sudah berganti nama.

Tidak ada komentar: